Selasa, 27 Maret 2012

TUGAS 1

A. Pengertian Ilmu Alamiah Dasar
  ada yang tau apa itu ilmu alamiah dasar?
  oke kalau tidak ada yang tau disini saya akan membahas tentang ilmu alamiah dasar check this out

Pengertian Ilmu Alamiah Dasar

     -. Ilmu alam          = Ilmu Pengetahuan Alam
                                    = Natural Science
                                    = Science
                                    = Sains
       -. Mengkaji gejala alam semesta sehingga  terbentuk konsep dan prinsip
Ilmu Alamiah Dasar
-. Pengetahuan tentang konsep-konsep dasar yang ada dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Teknologi
       -. Bukan suatu disiplin ilmu
Pengertian Ilmu Alamiah Dasar

Ditujukan kepada mahasiswa yang belajar di bidang sosial budaya, agar
-.    memiliki pandangan yang lebih luas dalam bidang IPA
-.    mampu mendekati persoalan pengetahuan alam dengan penalaran yang lebih komprehensif
-.    memperoleh dan memahami pengetahuan yang ada dan termasuk dalam bidang Pengetahuan Alam dan Teknologi


Ilmu, Sains dan Teknologi

Ilmu Dasar : Matematika, Fisika, Kimia
   Ilmu lain memanfaatkan hukum matematika, fisika dan kimia,
   contohnya environmental sciences, life sciences, behavioral science.

Teknologi :
   mencakup sains, rekayasa (engineering) dan manajemen.

Sains :
     Eksplorasi ke alam materi berdasarkan observasi, bertujuan untuk mencari hubungan antara fenomena yang diamati dan yang bersifat menerangkan, dan harus dapat menguji diri
sumber: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CDcQFjA

B. Perkembangan Alam Pikiran Manusia
    a. bagaimana cara manusia memuaskan Alam Pikirannya:
Sifat unik manusia :    AKAL BUDI
                                                KEMAUAN
                             akal budi 
                                            => rasa ingin tau
                                            => mencari jawaban/ pemecahaan atas berbagai soal
      b. perkembangan alam pikir manusia

Kegiatan untuk mencari Jawaban/
Pemecahan :
       Penyelidikan Langsung
       Penggalian Hasil Penyelidikan yang Sudah Pernah Diperoleh Orang Lain
       Kerjasama dengan Penyelidik Lain

 



Rasa Ingin Tahu
          => Perkembangan Alam Pikiran Manusia
 Perkembangan pikiran manusia :
Sejak jaman purba hingga dewasa ini
Sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya
  
Mitos, Penalaran dan Cara Memperoleh Pengetahuan
Sejarah perkembangan manusia (Comte)
1.         Tahap Teologi (Tahap Metafisika)
2.       Tahap Filsafat
3.       Tahap Positif (Tahap Ilmu)
Mitos :
          Berupa dongeng
          Pengetahuan yang bersifat subyektif
          Untuk memuaskan rasa ingin tahu
          Rasio dan penalaran belum terbentuk
          Hasil khayalan, intuisi dan imajinasi
         Memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. (van Peursen)
         Diungkapkan: cerita, tarian, pementasan  wayang,
         Melambangkan pengalaman manusia

Manusia pada tahap teologi
menjawab keingintahuannya
dengan menciptakan mitos/dongeng, karena
alam pikirannya masih terbatas
pada imajinasi atau intuisi.










Penalaran 
        Deduktif
        Induktif

Penalaran Deduktif :
-.  cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang  bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus.
-.  Menggunakan pola berpikir silogisme


Penalaran Induktif :
-. cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat  khusus untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum.
-. Terkait dengan pengetahuan empirisme


Cara memperoleh pengetahuan :
-.     Metode Non-Ilmiah                        -.      Metode Ilmiah


D. Metode Ilmiah
Pengetahuan ILMIAH
Syarat :
      OBYEKTIF, sesuai dengan obyeknya, dibuktikan dengan hasil penginderaan, empiris.
      METODIK, menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
      SISTEMATIK, tersusun dalam suatu sistem, saling berkaitan, saling menjelaskan menjadi sauatu kesatuan yang utuh
      UNIVERSAL, berlaku umum, dengan eksperimentasi yang sama akan diperoleh hasil yang sama (Konsisten)

Metode  ILMIAH :
-. Cara logis untuk memecahkan masalah tertentu
-. Cara atau prosedur dalam memperoleh pengetahuan ilmiah
-. Menggabungkan cara berpikir deduktif dan induktif yang menghasilkan pengetahuan yang rasional dan teruji
KRITERIA METODE ILMIAH
        Berdasarkan fakta
        Bebas dari prasangka
        Menggunakan prinsip-prinsip analisa
        Menggunakan hipotesis
        Menggunakan ukuran obyektif
        Menggunakan teknik kuantitatif

Langkah Operasional Metode Ilmiah
        PENENTUAN MASALAH
        PERUMUSAN KERANGKA MASALAH
        PENGAJUAN HIPOTESIS
        DEDUKSI DARI HIPOTESIS
        PENGUJIAN HIPOTESIS
        PENERIMAAN HIPOTESIS MENJADI TEORI


KEUNGGULAN METODE ILMIAH
    Ilmu pengetahuan yang dihasilkan mempunyai sifat obyektif, metodik, sistematis dan universal
    Membimbing pada sikap ilmiah yang terpuji
   Cinta kebenaran yang obyektif, bersikap adil
   Sadar bahwa kebenaran ilmu tidak absolut
   Tidak percaya tahayul atau untung-untungan
   Ingin tahu lebih banyak
   Tidak berpikir secar prasangka, tetapi terbuka atau obyektif dan toleran
   Tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa ada bukti yang nyata
   Selalu optimis, teliti dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmunya adalah benar



KETERBATASAN METODE ILMIAH
    Data yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ilmiah berasal dari pengamatan
    Panca indera mempunyai keterbatasan kemampuan menangkap suatu fakta


AKIBATNYA : Kesimpulan Dapat Berubah dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan.
Kebenaran Ilmu Pengetahuan Bersifat Relatif dan Tentatif.
sumber: http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CDcQFjAE&url=http



Kamis, 26 Januari 2012

nyanyian sendu kidung cinta.

indahx malam di balik tebaran cahaya sang dewi malam menemani diriku dalam kesendirian.
teringat akn dirimu yg telah meninggalkan luka dalam hati..
kau pergi dgn senyuman,kau tinggalkan aku dgn nyanyian sendu yg merobek hati hingga jiwaku rapuh..
indahnya malam di balik hiasan gemerlapan bintang ku coba lantunkan doa untk dirimu semoga kau bhagia tanpa diriku..

aku dan ketiga sahabatku :D

hallo namaku icha aku sangat bangga sekali bisa memiliki tiga orang sahabat
mereka sangat care sekali denganku keluh kesah dan tawa sering kita lalui bersama mulai dalam masa cinta-cintaan hingga masa sakit hatian
memang kami berempat tidak tinggal bareng tapi kami sering menghabiskan waktu di kampus atau dengan pergi ke sebuah mall,disana kita sering menghabiska waktu bersama mulai dari makan nonton ng games sampai dengan cerita-cerita
aku sayang sekali dengan ketiga sahabatku disaat aku sedih maupun senang ketiga sahabatku itu selalu setia menemaniku
dan selalu bisa untuk menghiburku.
memang dulu kita berempat tidak  satu sekolahan dan disebuah kampuslah kita bertiga dipertemukan untuk menghabiskan waktu bersama-sama.
dan kita bertiga memang tidak terkenal dibandingkan teman-temanku yang lainnya tapi kita bertiga mampu untuk bergaul dengan siapa saja :).
oke,cukup sekian cerita tentang aku dan ketiga sahabatku itu see you :)

Sabtu, 07 Januari 2012

cerpen dari talitha :)

*Hujan selalu menyisakan percikan kenangan, yang tetap tak tersamar pelangi setelahnya. Sheila mendesah lalu meraih notes kecilnya, berniat mengalirkan barisan kata yang berkejaran di benaknya lewat ujung pena, tak peduli dengan guncangan kendaraan yang sedang dinaikinya.

“Dalam deru bus antarkota, aku menangkapi bayangannya yang masih menari di luar sana. Tersembunyi dalam titik-titik air yang mengetuk kaca jendela. Entah kapan aku bisa mengenyahkannya, ya tentang kamu dan hujan kala itu ..”

*
Hujan kala itu, mengawali kisah tentangnya.
‘Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api.
Yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan.
Yang menjadikannya tiada.’


Pagi itu ditemani dendang rintik hujan, dikawani kesendirian dan di dalam ruang mading yang sarat kesunyian, Sheila sedang duduk sambil menekuri sehelai kertas puisi saduran tak bertuan yang tiba-tiba tergeletak pasrah di meja panjang ruangan. “Keren,” ucapnya pelan.

“Sapardi Djoko Damono.”

Sheila hampir mencelat dari kursinya karena kaget. Ia mengangkat wajah dan terkejut mendapati siapa yang barusan bersuara.

Pemuda itu berdiri di belakang Sheila, ikut mengamati kertas puisi yang sama. Tetesan air bergelayut di ujung-ujung rambutnya. Seragam yang sedikit basah menyurukkan wangi hujan dan harum maskulin alaminya, sejenak membuat Sheila terpana. Dia Aryo Junio, kapten tim basket putra SMA mereka yang kata teman-temannya amat berbakat dan tampan. Kadang Sheila memandangi Ryo (sapaan akrab Aryo) dari kejauhan, kemudian selalu bertanya tak mengerti kenapa pemuda ‘biasa saja’ ini begitu dielu-elukan.

Ryo menyunggingkan senyum miring “Itu Aku Ingin-nya Sapardi Djoko Damono kan ? larik itu termasuk dalam buku kumpulan puisi yang judulnya Hujan Bulan Juni. Keren banget tuh.” Celotehnya lancar lalu menarik bangku di ujung lain meja dan duduk disana.

Sheila cuma melongo, dia bahkan belum pernah mendengar nama penyair tadi kalau Ryo tidak menyebutnya, karena di kertas puisi itu pun tak tertulis siapa pembuatnya. Sheila juga tidak menyangka, Ryo yang selalu mengundang jeritan histeris gadis-gadis saat beraksi di lapangan itu ternyata ‘geek at heart’ juga.

Selasa, 15 November 2011

apasih ilmu budaya dasar itu?

apasih ilmu budaya dasar  itu?
apakah ada yang tau?
kalau belum tau yuk coba kita liat ke artikel ini,disini saya akan membahas tentang apasih mata kuliah ilmu budaya dasar itu?
oke saya akan memulainya

disini kita akan membahas apasih ilmu budaya dasar itu?
Mata kuliah Ilmu Budaya Dasar adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan tentang nilai-nilai, tentang kebudayaan dan berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam hidup sehari-hari. Hal ini perlu, karena dirasakan kekurangan pada sistem pendidikan kita. Tidak dapat disangkal, bahwa ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia-manusia spesial yang tidak berpandangan luas.
Disini diharapkan kegunaan mata kuliah ini, agar lulusan perguruan tinggi kita dari semua jurusan dapat mempunyai suatu kesamaan bahan pembicaraan.
Dengan mendapatkan mata kuliah Ilmu Budaya Dasar mahasiswa diharapkan nantinya memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia pada umumnya dan menimbulkan minat mendalaminya lebih lanjut, agar dengan demikian mahasiswa diharapkan turut mendukung dan mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan kreatif. Jadi secara singkat, dapat dikatakan bahwa setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan memperlihatkan minat, kesadaran, kerelaan, dan keberanian moral.
Ilmu Budaya Dasar Sebagai Bagian Dari Mata Kuliah Dasar Umum
Secara khusus mata kuliah ini bertujuan untuk menghasilkan warga negara sarjana yang berjiwa pancasila, takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan berwawasan luas.
Pengertian Ilmu Budaya Dasar
Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang memberi pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah manusia dan kebudayaan.
Istilah Ilmu Budaya Dasar dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanitiesm yang berasal dari istilah bahasa inggris “The Humanities.” Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa latin humanus yang bisa diartikan manusia, berbudaya dan halus. Dikatakan bahwa the humannities berkaitan dengan nilai manusia sebagai homo humanus atau menuasia berbudaya. Prof.Dr.Harsya Bachtiar mengemukakan bahwailmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Ilmu-ilmu Alamiah ( natural science ) : astronomi, fisika, kimia, bioloi, kedokteran, mekanika.
2. Ilmu-ilmu sisoal ( social science ) : ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, dsb.
3. Pengetahuan budaya

tujuan ilmu budaya dasar itu adalah sebagai berikut:

Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Ilmu budaya dasar sebagai salah satu usaha pengembangan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut diri sendiri.
Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Ada 2 pokok masalah yang bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah Ilmu Budaya Dasar, yakni :
1. Berbagai aspek kehidupan seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya.
2. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat.
Menilik kedua masalah poko yang bisa dikaji dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar diatas, nampak jelas bahwa manusia menempati posisi sentral salam pengkajian. Manusia tidak sebagai subjek tetapi sebagai objek pengkajian.
Pokok bahasan yang akan dikembangkan adalah:
- Manusia dan cinta kasih
- Manusia dan keindahan
- Manusia dan penderitaan
- Manusia dan keadilan
- Manusia dan pandangan hidup
- Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
- Manusia dan kegelisahan
- Manusia dan harapan
Kedelapan pokok bahasan itu termasuk dalam karya-karya yang tercakup dalam pengetahuan budaya. Masing-masing pokok bahasan dapat didekati dengan baik menggunakan cabang-cabang pengetahuan budaya secara sendiri-sendiri maupun secara gabungan cabang-cabang tersebut.

sumber:
http://bacaebookgratis.wordpress.com/2011/06/03/1-tinjauan-tentang-ilmu-budaya-dasar/

hujan kala itu

*Hujan selalu menyisakan percikan kenangan, yang tetap tak tersamar pelangi setelahnya. Sheila mendesah lalu meraih notes kecilnya, berniat mengalirkan barisan kata yang berkejaran di benaknya lewat ujung pena, tak peduli dengan guncangan kendaraan yang sedang dinaikinya.

“Dalam deru bus antarkota, aku menangkapi bayangannya yang masih menari di luar sana. Tersembunyi dalam titik-titik air yang mengetuk kaca jendela. Entah kapan aku bisa mengenyahkannya, ya tentang kamu dan hujan kala itu ..”

*
Hujan kala itu, mengawali kisah tentangnya.
‘Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api.
Yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan.
Yang menjadikannya tiada.’


Pagi itu ditemani dendang rintik hujan, dikawani kesendirian dan di dalam ruang mading yang sarat kesunyian, Sheila sedang duduk sambil menekuri sehelai kertas puisi saduran tak bertuan yang tiba-tiba tergeletak pasrah di meja panjang ruangan. “Keren,” ucapnya pelan.

“Sapardi Djoko Damono.”

Sheila hampir mencelat dari kursinya karena kaget. Ia mengangkat wajah dan terkejut mendapati siapa yang barusan bersuara.

Pemuda itu berdiri di belakang Sheila, ikut mengamati kertas puisi yang sama. Tetesan air bergelayut di ujung-ujung rambutnya. Seragam yang sedikit basah menyurukkan wangi hujan dan harum maskulin alaminya, sejenak membuat Sheila terpana. Dia Aryo Junio, kapten tim basket putra SMA mereka yang kata teman-temannya amat berbakat dan tampan. Kadang Sheila memandangi Ryo (sapaan akrab Aryo) dari kejauhan, kemudian selalu bertanya tak mengerti kenapa pemuda ‘biasa saja’ ini begitu dielu-elukan.

Ryo menyunggingkan senyum miring “Itu Aku Ingin-nya Sapardi Djoko Damono kan ? larik itu termasuk dalam buku kumpulan puisi yang judulnya Hujan Bulan Juni. Keren banget tuh.” Celotehnya lancar lalu menarik bangku di ujung lain meja dan duduk disana.

Sheila cuma melongo, dia bahkan belum pernah mendengar nama penyair tadi kalau Ryo tidak menyebutnya, karena di kertas puisi itu pun tak tertulis siapa pembuatnya. Sheila juga tidak menyangka, Ryo yang selalu mengundang jeritan histeris gadis-gadis saat beraksi di lapangan itu ternyata ‘geek at heart’ juga.

“Be-te-we. Gue numpang tidur disini, boleh kan ? Ekskul basket juga ga bakal ada nih kalau hujan begini..” Ucapan ini toh hanya basa-basi. Tanpa menunggu jawaban si penunggu ruang, Ryo langsung melipat kedua tangannya di atas meja lalu membenamkan wajah disana.

Sheila sedikit bingung, namun tanpa sadar ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari pemuda rupawan yang saat itu mulai terlelap dalam nafas teratur.
Hujan kala itu, meniupkan perubahan.

Kunjungan singkat itu terhelat tiap kali hujan membisiki pagi. Saat petir menyambar kencang dan alam mulai menumpahkan tangisnya, Sheila tahu pemuda itu akan kembali.
Tak lama, ceklikan di engsel pintu membuktikan hipotesisnya.

“Kenapa ya hujan terus ?” Ryo melontarkan pertanyaan retoris yang dijawab Sheila dengan bahu terangkat. Tanya saja Tuhan, batinnya sarkatis.

Sheila sudah mulai hafal rutinitas Ryo setelah ini. Sementara dirinya menyortir artikel-artikel untuk mading mingguan, pemuda itu akan merutuk sebentar soal kenapa pelatihnya tidak memindahkan jadwal ekskul basket menjelang turnamen dari jam ke nol (sebelum upacara dan ma-pel dimulai) ke jam pulang sekolah (mengingat hujan selalu merusak waktu latihan pagi), lalu ia akan menduduki bangku yang itu-itu saja, melipat kedua tangan di atas meja, membenamkan wajah dan mendengkur.

Tapi pagi itu, Ryo tergelitik untuk menanyakan sesuatu setelah menarik bangku “Udah baca kumpulan puisi yang waktu itu gue bilang, belom ?”

Sheila menaikkan sebelah alis, mengira seharusnya Ryo sudah melayang di alam mimpi. Ia menggeleng.

“Sayang banget,” Ryo berdecak “Besok gue pinjemin deh. Itung-itung balesan buat akomodasi gratis tiap pagi nih. Oke ? Gue tidur dulu ya.” Tukasnya lalu melanjutkan prosedur tidur paginya yang tertunda.

Sheila mengerutkan kening. Dasar aneh.
Hujan kala itu, menadakan seuntai harapan.

“Lo suka nulis puisi ?” Ryo mengangkat tinggi-tinggi kertas yang terisi penuh oleh tulisan tangan Sheila, sementara si empunya sedang berusaha merebut kembali kertasnya.

“Ini buat konsumsi pribadi,” Rutuk Sheila pelan. Sikapnya memang cenderung introvert, tapi bukan itu sesungguhnya alasan kenapa ia tidak menunjukkan hobinya. Ia hanya merasa buah karyanya belum pantas dipublikasikan. Dan pemuda rese ini malah mengerjainya. Serius deh, dilihat dari sisi mananya sih Ryo ini dibilang keren ? Di mata Sheila, Ryo hanyalah pemuda pengantuk tukang tidur yang diam-diam mencintai puisi setengah mati.

“Ini keren banget !” kata Ryo “Yah emang belum sekeren Sapardi sih hehe ..” Ryo terkekeh, lalu tiba-tiba menatap Sheila serius.

“Tapi lo kan punya sarana ini .. Maksud gue, mading ini loh.. Kenapa ga dipajang ? Perasaan kerjaan lo cuma nyortir doang kayak tukang pos ?”

Sheila mendesah “Job-desc gue kan cuma editor, editor yang harus selalu dateng paling pagi buat milihin bahan,” katanya, lalu mencuri kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Gue ga pede lagian.”

Ryo berdecak, lalu berjalan mendekati Sheila. Ia mengangkat dagu Sheila dengan telunjuknya, tanpa tahu bahwa sebuah rasa asing baru saja menyalip hati gadis yang sedang dipandanginya.

Ryo lalu meletakkan kedua tangannya di bahu Sheila, melesakkan tiap inci harapan dalam tuturnya “Lo bakal jadi penyair terkenal suatu saat nanti dan gue akan ada disana, nonton lo di baris pertama Teater Salihara. Don’t give up, Sheila !”
Hujan kali ini, tak ada lagi dia.

Sheila merogoh daypack-nya, mengeluarkan ponsel dan membaca pesan singkat dari Ryo yang berisi undangan perayaan peresmian hubungannya dengan Jelita. Hari ini dan dia takkan ada disana. Takdir membawanya untuk meraih beasiswa dari sebuah institute sastra ternama di kota Bandung. Inilah warta gembira yang diberitakan menggebu oleh Bundanya di hari kelulusannya waktu itu.

Sheila sengaja memilih jalur darat dengan bus antarkota, untuk meminjam waktu dan mengutangi masa. Waktu yang diharapnya dapat dikembalikan dengan kenangan yang sudah terlupa. Ia kembali menekuri notes kecilnya, mengahpus tujuh kata terakhir dan mulai menulis lagi.

“Dalam deru bus antarkota, aku menangkapi bayangannya yang masih menari di luar sana. Tersembunyi dalam titik-titik air yang mengetuk kaca jendela. Entah kapan aku bisa mengenyahkannya. Aku hanya berharap kisah ini akan terlupa, dan cerita ini akan menghilang. Seiring dengan gugus mentari yang tertelan cahaya bintang, tersesat di sela pandang, tersamabar ilalang. Tertinggal jauh .. jauh di belakang.”*
Hujan kala itu, dia tidak datang.

Sheila menatapi jarum jam besar di dinding ruang mading untuk kesekian kali, dan merasa dadanya sesak. Sudah lewat lima belas menit. Ia menunduk pelan, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Pemuda itu takkan datang lagi, untuk kelima kalinya di pagi berhujan yang telah terlewat seperti ini. Ia pun tak pernah kembali, di hari-hari mendatang yang segera hilang lalu teronggok mati.

*
Hujan kala itu, setelah tiga bulan tanpa alasan untuk bertahan.

Sorak-sorai dan semprotan pylox mewarnai kemeriahan pengumuman kelulusan. Disertai berkah tak terhingga yang dihadiahkan Tuhan bagi perjuangan semua orang, Hujan. Semua melepaskan atribut gengsi dan mulai menari di bawah rintikan yang kian membesar.

Sheila tidak berniat untuk ikut dalam pertunjukan missal itu. Ia harus cepat pulang karena sejak tadi Bunda menerornya untuk segera sampai rumah. Tak ada jalan lain kalau ia tidak menerobos hujan.

Sheila berlari kecil, guyuran air mengaburkan pandangan hingga tak sengaja menabrak seseorang yang tengah melintas.

“Sheila !” suara baritone dan wangi hujan yang khas itu.

“Hei, Yo !” Sheila mengangguk sejenak pada sosok kabur Ryo, berusaha menahan mulut utnuk tidak bertanya kenapa Ryo tak pernah menemuinya lagi. “So .. sorry gue duluan ..” Sheila berusaha menghindar dan melewati Ryo, tepat saat tangan kokoh pemuda itu menyambarnya.

Sheila membalikan badannya dan terperanjat saat Ryo memeluknya kuat-kuat. Tak lama, Ryo melepasnya, lalu meletakkan tangan di kedua bahunya dan menyambar mata gadis itu.

Sheila tak bisa lagi menghardik getaran yang menjalar di jantungnya. Diam-diam ia masih bertahan untuk Ryo. Sekadar berharap dalam gelap.

“Sheil, gue tahu gue gila. Tapi gue … gue .. gue baru sadar sesuatu .. ternyata ..”

Sheila mengangguk pelan, menunggu kelanjutan ucapan Ryo, pemuda itu terlihat berseri.

“Ternyata gue sudah jatuh terlalu dalam buat Ita. Gue mau nembak Ita, Sheil. Tiga bulan pendekatan ini udah ngeyakinin gue. Lo tahu, tiap pagi gue selalu datengin dia di kelasnya. Dia selalu dateng paling pagi. Hehe. Gue baru nemuin orang yang ga bosen sama ocehan gue soal Sapardi selain lo.”

Sheila menyunggingkan senyum lebar saat perasaan sakit menyesahnya lalu menyesak dada dan perutnya, matanya memanas. Sebutir air mata menari di wajahnya, terkamuflase tetesan air hujan yang sudah terlebih dulu disana.

“Dan lo tahu, puisi apa yang bakal gue bacain pas nembak dia ? Aku Ingin-nya Sapardi, Sheil ..” Ryo mengguncang bahunya “Kayak waktu kita pertama ketemu itu, lo inget kan ?”

Sheila tersenyum makin lebar saat air matanya dan air mata alam berlomba utnuk menjadi yang paling deras. “Bagus banget, Yo ! Bagus banget !”

“Lo emang temen terbaik gue, Sheil ! sumpah. Meski kita cuma ketemu beberapa puluh menit sehari, gue ngerasa nyambung sama lo. Lebih nyambung dari temen-temen cowok gue, thanks buat semuanya.”

Ryo mendekap Sheila lagi “Anyway, gue masih tetep mau nonton lo di Salihara. Duduk di baris depan sama Ita. Hehehe” Sheila menganggukan kepalanya di bahu Ryo dan membiarkan dirinya terbawa dalam hujan kala itu, hujan terakhirnya bersama Ryo. Hujan yang menampar dirinya, bahwa ia masih dan hanyalah seorang gadis pemimpi sederhana yang ditemukan secara tak sengaja di ruang mading yang sepi, yang mencintai lelaki perutuk hujan itu dalam diam.
Hujan kala itu, membawa seutas pesan dan segenggam goresan.

Meski kebenaran itu hanya terkungkung sampai batas pintu ruang mading, Sheila tahu tak pernah ada salahnya untuk berharap. Entah bagaimana, harapan itu muncul dan mengembang tak terkendali. Harapan agar Ryo selalu menyemangati mimpinya, harapan agar Ryo terus mencekokinya dengan biografi lengkap Sapardi Djoko Damono walau sebenarnya Sheila sudah bosan, harapan agar Ryo selalu menertawakan kepolosannya. Praktisnya, harapan agar Ryo (Ryo dengan sosok berbeda yang hanya ditunjukkannya pada Sheila) bisa terus disampingnya.

Hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu soal rutinitas itu, rutinitas ‘privat’ –dalam pandangan Sheila- pagi mereka. Mungkin karena Sheila memang jarang berkeliaran di sekolah, ia tak pernah bertemu Ryo di samping jam rutin itu dan gadis itu pun tak pernah tahu ada prahara yang mengintipnya di luar sana.

Sheila mengenal Jelita sepintas lalu. Jelita adalah gadis sederhana, dua bulan lalu pindah dari Jepara, dengan kepintarannya melanglang mimpi jauh-jauh untuk mendapat beasiswa di Jakarta. Di SMA mereka.

Dan kini Sheila mendapat tambahan satu fakta, fakta yang didengarnya di pagi yang mendung itu, dari seorang pemuda yang menghampirinya dengan wajah kalut.

“Ya ampun, gue ga pernah ngerasin debar kayak gini, Sheil.” Ryo mondar-mandir. “Rasanya serba salah kalo dia lewat. Kayak ‘Sajak Kecil Tentang Cinta’nya eyang Sapardi. Mencintai angin harus menjadi suit, Mencintai air harus menjadi ricik, Mencintai gunung harus menjadi terjal, Mencintai …”

Sheila merasa ucapan Ryo berdenging di telinganya lantas menghilang tak terdengar. Ada perasaan tertusuk yang merayapi hatinya. Cakrawalanya seperti runtuh. Cakrawala yang terbentuk dari tiap rinai hujan yang selalu menemani pertemuan diam-diam mereka.

“…tapi, ujungnya bagus banget, Sheil. MencintaiMu (mu) harus menjadi aku. Ya ampun, gue kedengeran cewek banget ga sih ? Masalahnya, gue bisa diketawain kalo cerita begini sama anak-anak basket. Lo kan cewek, bantu gue deketin dia dong ..”

Sheila mendesah tak kentara. Menyesal kenapa dia harus menyukai pemuda tak peka begini sih. Sheila perlahan memasang plester luka di ujung ujung bibirnya yang kini tertarik ke atas. “Gue ga bisa bantu apa-apa. Tapiii kenapa lo ga coba mulai dengan puisi aja ?”
Hujan kala itu, menebalkan angan.

“Tumben ga tidur ?” Sambil merapikan tumpukan artikel issue mnggu lalu. Sheila berpura-pura tak acuh, seakan hanya bertanya sepintas, saat melihat Ryo bertopang dagu dan mengetukkan jarinya dengan gelisah.

Sheila sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Ryo yang selalu diiringi orchestra rintikan air di ruang madingnya, dan terlalu menikmati ketukan tak beraturan yang membuncah di hatinya saat melihat pemuda itu.

Ryo masih sibuk berfikir hingga tak mendengar ucapan Sheila, lalu menggumam agak keras.

“Emang sekarang beneran jaman emansipasi wanita ya ?”

Sheila mengangkat bahu. Lama-lama terlatih mendengar celetukan Ryo yang tidak biasa.
“Gue ditembak,” kata Ryo lagi.

Mau tak mau Sheila melongo “Hah ?”

Ryo menggaruk kepalanya salah tingkah “Gimana dong ya ?”

“Kalau suka, terima lah. Ga suka, ya tolak.” Jawab Sheila kalem, walau hatinya ketar-ketir setegah mati. Harusnya dia sadar, Ryo itu memang sasaran empuk gadis-gadis cantik.

“Gue ga suka sih,”

Sheila menghela nafas lega diam-diam “Kenapa ?”

“Bukan tipe gue aja..”

Sheila mengangkat alis, lalu baru ingat Ryo pernah bercerita bahwa ia belum pernah punya hubungan khusus dengan perempuan walau banyak yang mengejarnya. “Emang tipe lo kayak gimana ?”

“Yang kalem, ga kebanyakan dandan, ga kebanyakan cekikikan sama jejeritan.” Ryo menatapnya “Kayak lo gitu deh,” lanjtunya lalu tertawa pelan.

Sheila terdiam, baru menyadari pemuda di hadapannya memiliki lesung pipi yang menawan.